LANDOSMEDIA.COM - Duka di Balik Layar Food Vlogger Pemula, Gadis di Banyuwangi ini Ungkap Pernah Tak Dibayar Pemilik Usaha
Dunia kreatif digital di Bumi Blambangan kembali melahirkan talenta muda yang inspiratif. Adalah Unun Widya Melvin, gadis berusia 19 tahun asal Desa Gombolirang, Kecamatan Kabat, Banyuwangi yang kini mulai dikenal publik sebagai kreator konten akun kuliner "Bolo Njajan". Di balik keceriaannya saat mengulas berbagai hidangan lezat, siapa sangka ada kisah perjuangan dan luka lama yang menjadi bahan bakar utamanya dalam berkarya di media sosial.
"Saya baru aktif bermain media sosial selama kurang lebih 8 bulan terakhir, namun tidak semulus yang saya bayangkan. Menjadi food vlogger pemula ternyata penuh dengan tantangan dan drama di lapangan. Karena saya juga pernah berhadapan dengan realita pahit dunia promosi, mulai dari janji manis pemilik usaha hingga persoalan bayaran yang tidak sesuai kesepakatan bahkan pernah tidak dibayar," kata Unun, Rabu (29/4/2026).
Unun mengungkapkan bahwa ia sudah mengalami belasan kali kejadian tidak menyenangkan setelah kontennya tayang.
"Kalau dihitung, kurang lebih ada belasan kali saya tidak dibayar setelah konten tayang di medsos. Ada yang memberikan janji-janji saja, ada yang mendadak hilang kontak, bahkan ada juga yang hanya membayar separuh harga dari kesepakatan awal," ungkapnya.
Lahir pada tahun 2006, Unun tumbuh dalam bayang-bayang prestasi sang kakak. Dulu ia sering dibanding-bandingkan oleh lingkungan sekitarnya dengan kakaknya. Sang kakak dikenal sebagai tokoh masyarakat dan pengajar di pondok pesantren, sebuah pencapaian yang membuat Unun merasa tertekan karena merasa penampilannya biasa saja dan tingkat pendidikannya tidak terlalu tinggi.
"Jujur saja, awal membuat akun food vlogger ini berawal dari rasa rendah diri. Saya sering dibanding-bandingkan dengan kakak saya yang sekarang jadi tokoh masyarakat dan mengajar di ponpes. Dengan penampilan saya yang pas-pasan dan ilmu yang tidak terlalu tinggi, saya sempat merasa tidak punya tempat," tambah Unun,
Pahitnya kehidupan tidak berhenti di rumah. Saat masih menempuh pendidikan SMA, Unun mengaku sempat menjalani masa santri selama tiga tahun di Pondok Pesantren. Di sana, ia mengaku pernah menjadi korban perundungan atau bullying. Pengalaman pahit tersebut sempat mengguncang mentalnya, namun justru dari titik terendah itulah mentalitas pantang menyerahnya mulai terbentuk.
Kini, gadis yang tengah menempuh studi di Universitas Ibrahimy ini, memilih jalan hidup yang berbeda dari ekspektasi keluarga besar. Meski berasal dari latar belakang keluarga yang berkecukupan, Unun memilih mandiri. Ia menjadikan aktivitas mengonten sebagai sarana utama untuk mencari uang saku tambahan tanpa harus terus bergantung pada orang tua.
Dunia usaha sebenarnya bukan hal baru bagi Unun. Sedari kecil, ia memiliki cita-cita menjadi seorang pengusaha sukses. Namun, seiring berjalannya waktu dan perkembangan tren digital, ia melihat peluang besar di dunia kreatif. Fokusnya pun beralih, dari yang semula ingin membangun bisnis konvensional kini memantapkan hati menjadi seorang konten kreator makanan profesional.
Namun, rentetan kekecewaan tersebut tidak membuatnya berhenti. Baginya, setiap penolakan dan ketidakadilan yang ia terima adalah bagian dari biaya belajar di industri kreatif. Unun tetap konsisten berkeliling dari satu warung ke warung lain di Banyuwangi demi menyajikan ulasan yang jujur dan menarik bagi para pengikutnya di media sosial.

