Banyuwangi, LANDOSMEDIA.COM - Masyarakat Suku Osing di Dusun Rejopuro, Desa Kampunganyar, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, kembali menggelar tradisi leluhur Ithuk-Ithukan pada Rabu (29/4/2026). Ritual tahunan yang kental dengan nuansa spiritual ini merupakan bentuk syukur atas melimpahnya sumber mata air Mengarang atau Kajar yang menjadi urat nadi kehidupan warga setempat.
Pantauan di lokasi, ratusan warga tampak antusias mengikuti prosesi yang dimulai sejak pagi hari. Ritual ini rutin dilaksanakan setiap tanggal 12 Dzulqa’dah dalam kalender Hijriah. Keheningan dusun seketika berubah menjadi meriah saat arak-arakan budaya mulai bergerak menyusuri jalanan desa dengan membawa sajian khas yang disebut 'ithuk'.
Sesepuh adat Rejopuro, Sarino, menjelaskan bahwa Ithuk-Ithukan bukan sekadar perayaan, melainkan ungkapan terima kasih yang mendalam kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurutnya, sumber mata air Kajar adalah berkah yang luar biasa karena tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang melanda wilayah tersebut.
"Ini merupakan rasa syukur kami atas sumber mata air yang melimpah. Tentunya, ini merupakan berkah yang membawa manfaat bagi masyarakat sekitar sini," ujar Sarino.
Ritual diawali dengan pembacaan doa bersama di atas ratusan ithuk. Sebagai informasi, ithuk adalah alas makan dari daun pisang yang menyajikan nasi lengkap dengan lauk utama pecel pitik. Pecel pitik sendiri merupakan kuliner ikonik Osing berupa ayam kampung panggang suwir yang dibalut parutan kelapa berbumbu khas.
Setelah didoakan, sekitar 3000an ithuk tersebut kemudian diarak dalam prosesi budaya yang semarak. Kemeriahan semakin terasa dengan iringan kesenian lokal seperti Giro Osing, Barong, Kuntulan, dan Sanggar Nampani. Suara musik tradisional yang ritmis mengiringi langkah para perempuan dusun yang berbaris rapi menggendong wadah berisi makanan.
Rombongan peserta arak-arakan berjalan menuju arah timur untuk membagikan makanan kepada warga yang dilewati, sebelum akhirnya berputar ke arah barat menuju lokasi sumber mata air. Di area sumber air itulah, seluruh warga berkumpul untuk makan bersama secara massal sebagai simbol persatuan dan kerukunan antar sesama.
Tradisi yang konon telah diwariskan sejak tahun 1617 ini juga menjadi instrumen penguat solidaritas sosial. Uniknya, nilai kemanusiaan sangat dijunjung tinggi dalam ritual ini; warga yang berhalangan hadir karena sakit tidak dilupakan. Mereka tetap mendapatkan jatah ithuk yang diantarkan langsung oleh tetangga ke rumah masing-masing.
Kepala Desa Kampunganyar, Suwandi, menegaskan bahwa Ithuk-Ithukan adalah pengingat bagi generasi muda bahwa air adalah anugerah Tuhan yang harus dijaga kelestariannya.
"Ini wujud syukur kami atas pemberian dari Tuhan Yang Maha Esa, terutama atas nikmat air yang mengalir tanpa henti," jelas Suwandi.
Pentingnya sumber mata air Kajar memang tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain sebagai sumber air minum utama, air dari lokasi ini juga mengairi lahan pertanian di beberapa desa tetangga, mulai dari Desa Glagah, Kenjo, hingga Taman Suruh. Dengan terjaganya tradisi ini, masyarakat Rejopuro berkomitmen untuk terus merawat alam demi masa depan anak cucu mereka.

