Tautan disalin!
Drawer Logo

Pesona Jamasan Pusaka Suro di Banyuwangi, Bikin Turis Prancis Takjub


Tradisi jamasan pusaka atau pembersihan benda-benda kuno yang identik dengan momentum memasuki bulan Suro kembali digelar di Serambi Museum Blambangan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi pada Selasa (16/6/2026). Ritual tahunan yang sarat akan nilai spiritual dan kebudayaan leluhur ini tidak hanya memikat masyarakat lokal, melainkan juga berhasil menarik perhatian sekaligus memukau wisatawan mancanegara yang sedang berkunjung ke Bumi Blambangan.


Seorang wisatawan asal Prancis bernama Zoe Couliard mengaku sangat terpesona dan takjub saat menyaksikan langsung deretan keris kuno yang sedang dibersihkan dengan penuh khidmat. Dirinya tidak menyangka bahwa senjata tradisional peninggalan orang zaman dulu setua ratusan tahun tersebut hingga kini masih dirawat dengan sangat baik, konsisten, dan penuh penghormatan oleh generasi-generasi penerusnya di Indonesia.


"Tidak sengaja saya lewat sini tadi, ternyata ada aktivitas yang saya tidak pernah lihat di tempat saya. Benda-benda kuno ini yang usianya ratusan tahun masih terlihat terjaga karena dirawat dengan benar oleh generasi penerus," kata Zoe Couliard kagum saat ditemui di lokasi, Selasa (16/6/2026).


Pembersihan benda pusaka seperti keris ini merupakan wujud nyata dari upaya melestarikan warisan adiluhur para leluhur yang secara turun-temurun dilaksanakan bertepatan dengan malam 1 Suro dalam kalender Jawa atau 1 Muharram. Bagi masyarakat Jawa, khususnya di Banyuwangi, keris bukan sekadar senjata tajam biasa, melainkan sebuah karya seni bernilai tinggi yang hingga kini masih memegang erat nilai sentimental serta sejarah yang sangat mendalam.


Salah satu kelompok yang secara konsisten merawat tradisi pembersihan keris dan benda pusaka ini adalah Paguyuban Panji Blambangan. Komunitas pelestari budaya ini tercatat telah menggelar tradisi jamasan secara rutin sejak 1 Suro tahun 2006, tepatnya tak lama setelah keris Indonesia diakui secara resmi oleh UNESCO pada 25 November 2005 sebagai simbol kecerdikan budi manusia Nusantara sekaligus warisan kemanusiaan milik dunia.


Dalam pelaksanaannya, upacara jamasan pusaka ini tidak dilakukan sembarangan melainkan wajib melalui beberapa tahapan ritual yang ketat dan bertahap. Prosesi dimulai dari pengambilan pusaka dari tempat penyimpanan khususnya, kemudian dilanjutkan dengan tahap tirakatan atau bersemedi untuk memohon kelancaran, hingga akhirnya masuk ke tahap inti yaitu pencucian atau jamasan pusaka yang digelar sepanjang bulan Suro.


Ketua Paguyuban Panji Blambangan, Ilham Triadi Nagoro, menjelaskan bahwa prosesi jamasan yang berlangsung dari tanggal 16 hingga 19 Juni ini memiliki makna filosofis yang sangat mendalam, bukan sekadar membersihkan karat. Menurutnya, jamasan merupakan simbol dari pembersihan diri secara utuh bagi manusia, baik secara fisik eksternal maupun secara kebatinan spiritual agar senantiasa melakukan introspeksi diri terhadap apa yang telah diperbuat.


"Selain membersihkan secara fisik, prosesi itu juga sebenarnya bertujuan untuk membersihkan diri. Bagaimana manusia itu harus introspeksi setidaknya setahun sekali mengingat apa yang sudah dilakukan sepanjang tahun dan apa yang akan dilakukan pada tahun mendatang," ungkap Ilham menjelaskan makna mendalam ritual tersebut.


Adapun jenis benda pusaka yang di-jamas dalam agenda rutin tahunan kali ini sangat beragam, mulai dari berbagai jenis keris sepuh, pedang luwuk, hingga tombak biring. Salah satu pusaka yang paling ikonik adalah tombak biring bersejarah milik Raden Tumenggung (RT) Astro Kusumo, yang merupakan Bupati ke-18 Banyuwangi yang memimpin pada tahun 1888 silam, yang turut dibersihkan agar terhindar dari kerusakan fisik akibat korosi.


Melalui kegiatan jamasan pusaka dan tosan aji ini, energi-energi negatif yang diyakini menempel pada pusaka karena lama tidak dirawat diharapkan dapat dilepaskan dan digantikan dengan energi positif yang membawa dampak baik bagi pemiliknya. Ilham bahkan meluruskan mitos di masyarakat mengenai keris yang bisa bergoyang atau berpindah tempat sendiri, di mana fenomena tersebut secara logis dan spiritual sering terjadi akibat menumpuknya energi negatif karena pusaka tersebut diabaikan dan tidak pernah dijamas.


Selain ritual penjamasan, rangkaian acara ini juga dimeriahkan dengan pameran pusaka, sarasehan, hingga sesi konsultasi gratis mengenai tata cara perawatan tosan aji bagi masyarakat umum. Ilham mengingatkan bahwa kemampuan keris berdiri tegak bukanlah semata-mata karena daya magis hitam, melainkan bukti otentik dari tingginya keterampilan, kesabaran, serta kalkulasi keseimbangan fisik (harmoni) yang diaplikasikan oleh para empu pembuatnya pada zaman dahulu.


Bagi keturunan leluhur masyarakat Osing, weluri atau petuah adat ini meyakini bahwa pusaka yang dirawat dengan benar akan menjaga "isi" di dalamnya, sementara kelalaian hanya akan membuat nilainya pudar menjadi senjata biasa. Menutup rangkaian prosesi, Ridho selaku perwakilan panitia menegaskan bahwa nilai ketelitian tecermin dari persiapan upacara yang seksama, sedangkan nilai religius diwujudkan melalui doa bersama kepada Tuhan Yang Maha Esa demi memohon perlindungan, keselamatan, dan kesejahteraan hidup ke depan.